Multifinance di Era Disruptif

0
204

Dahulu peradaban kita pernah memasuki era yang dikenal dengan istilah survival of the fittest (yang kuat yang bertahan). Model peradaban seperti ini diperkenalkan kepada kita dengan sebutan teori evolusi. Teori ini menghidupkan suatu narasi yang kuat bahwa kompetisi merupakan penggerak utama evolusi, maka semua penghuni bumi berjuang untuk supremasi dan hanya kuat yang dapat bertahan. Namun seiring berkembangnya peradaban istilah survival of the fittest tampaknya masih relevan hingga saat ini, namun dalam konteks yang berbeda. Yang paling kuat bukanlah yang terkuat menahan hempasan musim atau adu otot lagi, melainkan mereka yang tahan menghadapi gempuran perubahan sosial dan teknologi yang tidak kenal ampun.

Perusahaan sekaliber “Nokia” dan “Kodak” telah membuktikan betapa ganasnya gempuran perubahan sosial dan teknologi. Kedua Perusahaan rakasasa itu “dihajar” dan “dihukum” oleh suatu era dan kita menyebutnya Disruptive Era.

Apa itu Era Disruptif ?
Merupakan suatu era dimana dunia akan penuh dengan gangguan dengan banyaknya perubahan yang terjadi. Suatu era yang menggantikan cara-cara lama menjadi lebih mudah dan praktis. Dalam dunia bisnis, era disruptif tidak hanya akan mengubah “cara” berbisnis melainkan mengubah “fundamental bisnis”, menyederhanakan cost structure dan culture bisnis itu sendiri. Era disruptif telah membuktikan lahirnya ribuan perusahaan startup dan lahirnya profesi baru. Kehadiran perusahaan startup ini semakin memperkuat keyakinan kita bahwa dahulu bisnis yang sangat menekankan konsep “owning” (kepemilikan) telah berubah menjadi “sharing” (saling berperan dan kolaborasi sumber daya). Hal ini memicu munculnya pekerjaan sebagai youtuber dan memiliki online store yang semakin mengubah mindset kita soal berkarir dan berbisnis.

Sekarang mari kita amati bagaimana dahsyatnya era disruptif bagi indusri transportasi di Indonesia. Kita mulai dari perusahaan startup GoJek yang lahir di tahun 2010. Berdasarkan data Wall Street Journal tahun 2016 valuasi perusahaan GoJek telah mencapai 17 triliun rupiah, sedangkan perusahaan taksi BlueBird yang lahir tahun 1972 valuasinya baru mencapai 9,8 triliun rupiah, valuasinya sangat jauh berada dibawah GoJek. Fenomena ini telah mengubah paradigma bahwa era disruptif telah membawa kita pada suatu kecepatan bisnis yang memanfaatkan “celah” teknologi sebagai penggerak bisnis itu sendiri, maka teknologi itu sendiri pun telah mengubah prilaku sosial kita, ketika prilaku sosial berubah maka pasar pun ikut berubah. Momentum perubahan pasar inilah yang dimanfaatkan perusahaan startup dalam membangun kerajaan bisnisnya.

Lalu bagaimana dengan industri sektor jasa keuangan di Indonesia?

Fintech Disruption in Financial Services
Industri jasa keuangan di Indonesia beberapa tahun belakangan telah melahirkan satu “pemain” yang ikut dalam kontestasi bisnis jasa keuangan. “Pemain” tersebut adalah Fintech (Financial Technology) yang merupakan perusahaan startup dan disebut-disebut dapat mendisrupsi bisnis jasa keuangan konvensional di Indonesia. Anehnya, perusahaan Fintech saat ini dipenuhi oleh anak-anak muda generasi milenial yang memiliki pengalaman terbilang minim dibisnis jasa keuangan, namun di era disruptif generasi ini mampu membuktikan dan menghadirkan suatu “celah” bisnis jasa keuangan yang super cepat dan praktis dengan memanfaatkan Big Data Technology sebagai jantung bisnisnya. Meskipun sebagai “pemain” yang baru lahir, ternyata Fintech mulai “mengusik” OJK dan BI sebagai regulator industri jasa keuangan. Bagaimana tidak, OJK dan BI pun mulai “direpotkan” soal penyusunan regulasi Fintech, karena Fintech lahir sebelum adanya regulasi yang mengatur. Perkembangan Fintech pun cukup masif di Indonesia, mereka hadir dengan berbagai jenis, antara lain:

  1. Fintech Lending, yakni Fintech yang memberikan layanan kredit/pembiayaan melalui platform digital.
  2. Fintech Aggregator, yakni Fintech yang mengumpulkan data dan informasi layanan keuangan untuk diperbandingkan, sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat.
  3. Fintech Investasi, yakni Fintech yang memberikan layanan investasi dan perencanaan keuangan.
  4. Fintech Payment, Clearing dan Settlement,yakni Fintech yang memberikan layanan sistem pembayaran

Khusus Fintech Lending, berdasarkan data OJK pada kuartal pertama 2018, Fintech Lending telah menyalurkan kredit sebesar 4,7 triliun dengan NPL (Non Performing Loan) 0,5% sampai maret 2018, angka kredit tersebut pun diprediksi akan meningkat tajam sampai dengan akhir 2018. Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah penyaluraan kredit sebesar 4,7 triliun itu merupakan pasar baru yang belum pernah digarap atau justru Fintech Lending telah mencaplok pasarnya Multifinance/Perbankan? Sayangnya belum ada riset yang valid untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Mengubah Fundamental bisnis Multifinance
Melihat jumlah penyaluran kredit/pembiayaan Fintech Lending beberapa tahun terakhir yang begitu fantastis, tentunya hal ini mengagetkan sejumlah pihak. Multifinance dan Perbankan yang lebih dulu menjadi pemain disektor lending pun mulai berbenah. Sekarang mari kita fokus pada Multifinance.

Perusahaan Pembiayaan a.k.a Multifinance dapat dikatakan sebagai Perusahaan yang ahli dalam hal perkreditan/pembiayaan, bahkan Multifinance telah memainkan bisnis kredit/pembiayaan kurang lebih 30 tahun belakangan. Namun di era disruptif ini Multifinance harus merelakan dirinya bersaing dengan “penantang baru” yang juga bermain “mirip” dibisnis yang sama.

Lalu apakah kehadiran Fintech Lending justru dijadikan sebagai “ancaman” atau “peluang” bagi Multifinance? Jawabannya, Ya, bisa saja Fintech Lending menjadi “ancaman” yang sangat serius bagi Multifinance yang tidak merubah fundamental bisnisnya dan tidak mengikuti prilaku sosial dan prilaku pasar saat ini. Selanjutnya kehadiran Fintech Lending dapat menjadi “peluang” bagi Multifinance yang terbuka terhadap perubahan fundamental bisnis dan mengikuti prilaku sosial dan prilaku pasar saat ini.

Mengapa fundamental bisnis? Sebagai contoh misalnya Multifinance melakukan proses survei secara langsung dalam penyaluran pembiayaan dan prosesnya membutuhkan waktu beberapa hari dan hal ini sudah common terjadi dalam proses bisnis Multifinance. Sedangkan Fintech Lending memanfaatkan teknologi Big Data dalam proses penyaluran kredit dan prosesnya super cepat hanya beberapa jam saja, maka bila dilihat dari sisi cost structure, Fintech Lending jauh lebih hemat dan efisien dibanding Multifinance. Demikian juga terkait penyaluran kredit/pembiayaan kepada pelaku usaha, Multifinance mengharuskan pembuktian foto fisik tempat usaha sebagai salah satu syarat persetujuan kredit/pembiayaan. Namun perkembangan e-commerce di Indonesia saat ini menjadikan siapapun dapat memiliki usaha meskipun tidak memiliki stok barang dan tidak memiliki fisik tempat usaha. Maka Multifinance dapat melirik pelaku usaha online store dan online reseller dalam penyaluran kredit/pembiayaan di era disruptif saat ini.

Multifinance, Bikin Fintech atau Berkolaborasi dengan Fintech?
Untuk menjawab pelbagai tantangan di era disruptif sekarang, maka timbul pertanyaan apakah Multifinance harus membuat perusahaan startup Fintech atau justru berkolaborasi dengan Fintech. Pertimbangannya adalah apabila Multifinance membuat perusahaan startup Fintech maka Multifinance harus merekrut sumber daya dari generasi milenial yang “melek” dan “cakap” terhadap perkembangan teknologi keuangan digital. Pentingnya investasi SDM dan teknologi menjadi hal yang utama, namun perlu adanya kajian dan riset agar investasi tersebut tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan bisnis. Namun bagaimana kalau Multifinance berkolaborasi dengan Fintech?

Berkolaborasi dengan Fintech merupakan salah satu opsi yang bijak, selain biaya yang lebih murah, tentunya juga lebih cepat proses adaptasinya. Sebagai contoh misalnya, Multifinance dapat bekerjasama dengan Fintech Aggregator, karena akses terhadap layanan Fintech aggregator saat ini meningkat tajam, maka peluang pasar semakin terbuka bagi Multifinance. Demikian juga Multifinance dapat berkolaborasi dengan Fintech Payment dalam hal layanan pembayaran angsuran dan dapat juga menyalurkan kredit/pembiayaan kepada agen-agen pembayaran online tersebut. Maka dari itu Multifinance harus mulai mencoba untuk menjalin komunikasi dengan pelaku Fintech, agar menemukan “pintu” untuk dapat berkolaborasi bersama.

Maka apabila membuat Fintech atau berkolaborasi dengan Fintech, kedunya merupakan opsi yang sama-sama bijak dalam merespon kebutuhan pasar saat ini. Perubahan mindset sangat diperlukan agar Multifinance dapat mempertahankan hegemoni bisnisnya di era disruptif saat ini. Saatnya Multifinance memilih apakah mau ikut bermain di tengah keadaan disruptif saat ini, atau “bengong” menunggu dan tetap menikmati sisa-sisa kejayaan di masa lalu.

Oleh : Demson Natanael Sihaloho

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here