Problematika Naturalisasi Perkembangan Sepakbola Indonesia Dilihat dari Asas Kewarganegaraan

Sumber : afifahhaq.com

Bayangkan jika saat ini Timnas sepakbola Indonesia lolos ke Final Piala dunia, tapi diisi oleh pemain naturalisasi semua. Ada pro kontra, karena tidak semua murni orang Indonesia. Saat ini naturalisasi lagi populer dan gencar-gencarnya dilakukan oleh negara-negara secara global, terutama negara-negara berkembang. Naturalisasi atau pewarganegaraan merupakan proses perubahan status dari penduduk asing  menjadi warga negara suatu negara. Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup banyak melakukan naturalisasi, salah satunya di bidang olahraga yaitu sepakbola. Sepakbola Indonesia termasuk salah satu negara yang aktif dalam pencaharian proses naturalisasi. Perlu kita ketahui,  Hukum naturalisasi tiap negara berbeda-beda, di Indonesia masalah kewarganegaraan pada saat ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Sebelum diatur Undang-Undnag Nomor 12 tahun 2006, Undang-Undang kewarganegaraan, perubahannya sudah dari beberapa periode masa. Pertama, pada saat zaman Hindia Belanda yang mana terbagi dalam beberapa kaulanegara. Kedua, setelah proklamasi kemerdekaan yaitu Undang-Undang Nomor 3 tahun1945. Ketiga, Persetujuan kewarganegaraan dalam KMB 1949 yang membagi penduduk asli, orang Indonesia kaulanegaraBelanda, orang China dan Arab, orang Belanda yang dilahirkan di Indonesia dan orang asing. Keempat, Undang-Undang Nomor 62 tahun 1958.Kelima, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1976.

Asas Kewarganegaraan mula-mula dipergunakan sebagai dasar dalam menentukan termasuk tidaknya seorang dalam golongan warganegara dari sesuatu negara ialah asas keturunan atau ius sanguinis dan asas kelahiran atau ius soli. Asas ius sanguinis menetapkan kewarganegaraan seorang menurut pertalian atau keturunan dari orang yang bersangkutan. Jadi yang menentukan kewarganegaraan seseorang ialah kewarganegaraan orangtuanya, dengan tidak mengindahkan dimana ia sendiri dan orangtuanya berada dan dilahirkan. Asas ius soli menetapkan kewarganegaraan seseorang menurut daerah atau negara tempat ia dilahirkan.  Dalam menentukan kewarganegaraan itu dipergunakan dua stelsel kewarganegaraan yaitu : stelsel aktif dan pasif. Menurut stelsel aktif orang harus melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu secara aktif untuk menjadi warga negara. Dalam Stelsel aktif, ada yang namanya hak opsi, yaitu hak untuk memilih sesuatu kewarganegaraan. Misalnya Elkan Baggot, Calon pemain Timnas U-19 ini, walau lahir di Thailand, ayahnya adalah orang Inggris dan ibunya berasal dari Indonesia. Elkan Baggot tergolong dalam kelompok bi-patride (kewarganegaraan rangkap). Baggot bisa saja menjadi warga negara Thailand, karena Thailand menganut asas kewarganegaraan ius solli, otomatis akan mendapatkan status tersebut. Menariknya, Baggot juga bisa mendapat kewarganegaraan Inggris, status kewarganegaraan bisa secara otomatis diturunkan satu generasi ke anak-anak yang lahir di luar Inggris. Itu berarti kelak Baggot bisa menjadi Warga Negara Inggris kelak ketika dewasa. Sementara itu, Baggot bisa menjadi warga negara Indonesia karena darah sang ibu. Hal itu terjadi karena Indonesia menerapkan asas ius sanguins. Baggot akhirnya memilih Indonesia dan sekarang berpaspor Indonesia. Selain stelsel aktif juga ada stelsel pasif, ada hak repudiasi, yaitu hak untuk menolak sesuatu kewarganegaraan. Contohnya adalah Elkan Baggot, yang ditawarkan menjadi warga negara Thailand tapi menolak tawaran yang diberikan, hal ini termasuk hak repudiasi.

Secara garis besar terdapat dua jenis naturalisasi yakni naturalisasi biasa dan naturalisasi instimewa. Naturalisasi istimewa dapat diberikan oleh Pemerintah dengan persetujuan DPR dengan alasan kepentingan negara atau yang bersangkutan telah berjasa terhadap negara. Kepada mereka itu tidak dikenakan syarat-syarat untuk mengajukan permohonan pewarganegaraan biasa. Mereka hanya diharuskan mengucapkan sumpah atau janji setia. Naturalisasi biasa jenis naturalisasi yang dilakukan untuk memperoleh status kewarganegaraan bagi warga negara asing sebagaimana mestinya terjadi pada umumnya. Naturalisasi tersebut didasarkan pada Pasal 9 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Ada contoh beberapa pemain sepakbola yang sudah dinaturalisasi, diantaranya dari Eropa : Raphael Maitimo, Serginho Van dijk, Stefano Lilipaly, Diego Michiels, Beto , Spasojevic, Kim Kurniawan, Jhon Van Beukering, Ruben Wuarbanaran, Tonnie Cussel dari Afrika : Esaiah Pello Benson, Fassawa Camara, Sackie Doe, Bruno Casmir, Mamadou Diallo, Herman Dzumafo, Zoubairou Garba, Mohammadou Al Hadji, Victor Igbonefo, OK Jhon, Greg Nwokolo, Guy Junior, Bio Paulin, Osas Saha, Egwuatu Godstime Ouseluka, Mufilutau Opeyemi Ogunsola. Dari Amerika Selatan : Fabiano Beltrame, Otavio Dutra, Silvio Escobar, Cristian Gonzales, Esteban Vizcara, Beto Goncalves

Jika kita lihat Federasi Jerman mengembangkan potensi pemain lokalnya serta mengkader penerus dari berbagai lini usia ini bisa jadikan sebagai acuan.  Kisah ini berawal dari tahun 1990, ketika Jerman pada saat itu masih sebagai Jerman Barat seolah terlena dengan trofi piala dunia. Sepuluh tahun kemudian, Jerman mulai merasakan dampak dari jemawa mereka saat terpuruk di Piala Eropa 2000, 2004, dan Piala Dunia 2002. Setelah itu Jerman berbenah, mereka sadar tanpa pengembangan sepakbola yang baik dan terstruktur rapi mereka tidak akan pernah mengulangi kejayaan di Piala Dunia. Langkah pertama yang diambil oleh Jerman yaitu menginvestasikan uang dalam jumlah sangat besar untuk pengembangan pemain muda. Dikutip dari New York Times, kurang dari sepuluh tahun, Jerman sudah mengeluarkan uang 14 Triliun Rupiah untuk mendidik pemain muda di akademi-akademi sepakbola milik tim profesional dan pusat-pusat pelatihan dibawah pengawasan Federasi sepak bola Jerman (DFB). Diluar klub-klub profesional DFB juga memiliki program pemain muda sendiri yang diterapkan di 366 pusat latihan diseluruh jerman, dengan 1000 pelatih, 25.000 pemain dengan pengeluaran paling sedikit 13 juta dolar AS per tahun. Demi menyempurnakan sepakbola Jerman, mereka juga memberikan perhatian khusus bagi kalangan akar rumput. Setiap asosiasi sub-regional DFB menerima lima juta euro pertahun untuk mendukung pengembangan klub-klub amatir dan ini berarti memperkuat kontribusi terhadap pesepakbola usia dini. Masa depan keberlanjutan sepakbola akan terancam tanpa kerjasama erat antara klub profesional dan amatir. Pengorbanan membuahkan hasil, usai reformasi sepakbola secara besar-besaran Jerman sukses meraih peringkat 3 Piala Dunia 2006 dan 2010 serta juara Piala Dunia 2014. Dari pemain sukses memunculkan bintang-bintang muda seperti Kai Havertz (21 tahun), Leroy Sane (24 tahun). Adapun pelatih-pelatih asal Jerman yang termasuk berhasil seperti Jurgen Kloop , Thomas Tuchel, dan Joachim Low.

Naturalisasi atau pewarganegaraan membawa akibat hukum bagi istri dan anak-anak orang yang menjadi warga negara karena pewarganegaraan.Pertama, seorang perempuan asing yang kawin dengan seorang warga negara RI bisa memperoleh kewarganegaraan RI . Pada umumnya kewarganegaraan RI yang diperoleh seorang suami dengan sendirinya berlaku terhadap istrinya. Sebaliknya, bila seorang suami kehilangan kewarganegaraan RI maka dengan sendirinya istri kehilangan kewarganegaraan itu. Kedua, Anak yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin, yang mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ayahnya sebelum ayah itu memperoleh kewarganegaraan RI turut memperoleh kewarganegaraan RI. Ketiga, Kewarganegaraan RI yang diperoleh seorang ibu berlaku juga terhadap anak-anaknya yang tidak mempunyai hubungan kekeluargaan dengan ayahnya, jika anak berumur 18 Tahun atau belum kawin. Beberapa pemain sepakbola Indonesia yang sudah dinaturalisasi memilih anaknya untuk berkebangsaan Indonesia, baik yang kawin dengan orang Indonesia ataupun bukan. Naturalisasi menandakan gagalnya sebuah federasi dalam mengkader para pemain dari lini usia paling kecil, serta mempertahankan kemampuan dan potensi pemain. Membina anak bangsa sendiri merupakan salah satu cara terbaik untuk mencapai prestasi, naturalisasi bisa membunuh potensi anak negeri dan bukti ketidakpercayaan diri, hal inilah seharusnya yang dilakukan federasi apalagi untuk persiapan event Internasional. Naturalisasi yang banyak juga berdampak pada hal-hal yang bisa dikembangkan oleh anak negeri karena kalah bersaing dari segi kemampuan dan popularitas. Media akan lebih banyak menyorot calon pemain asing yang akan dinaturalisasi dibandingkan dengan wonderkid lokal yang mempunyai harapan potensi suatu saat nanti. Sejauh ini apa untungnya program naturalisasi untuk negara ? Hal ini dikhawatirkan kondisi ini justru membuka lapangan pekerjaan bagi pemain asing yang dengan mudah beralih status menjadi WNI dan disusupi kepentingan-kepentingan klub.

Fabio Syadino

Fabio Syadino

Alumni Fakultas Hukum Universitas Andalas

Read Previous

Seluk Beluk Asas Legalitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *